Slider Beranda

SPMB

SPMB

Teratai Putih Global Schools Membuka Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025-2026

https://wartagrandwisata.com/teratai-putih-global-schools-membuka-pendaftaran-seleksi-penerimaan-murid-baru-tahun-ajaran-2025-2026/

https://wartagrandwisata.com/teratai-putih-global-schools-membuka-pendaftaran-seleksi-penerimaan-murid-baru-tahun-ajaran-2025-2026/

Teratai Putih Global Schools Membuka Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025-2026

FKWGW

Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia: Sejarah Voorziter

29
×

Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia: Sejarah Voorziter

Sebarkan artikel ini

Sejarah Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia dan Warisan Kepemimpinan Opung Voorziter

Awal Gagasan Punguan Simarmata Se-Indonesia

Samosir — Berdasarkan buku Torsa Torsa Ompu Simataraja, Tarombo Ompu Simataraja, Torsa Torsa Paradaton (2006) karya OH Simarmata SH, Ketua Umum ke-3 Pengurus Pusat Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia, Mangga Albinus Simarmata bergelar Voorziter mulai merintis gagasannya pada tahun 1972.

Pada saat itu, ia memiliki impian besar. Ia ingin membentuk Punguan marga Simarmata se-Indonesia. Selain itu, ia juga bercita-cita membangun Tugu Pemersatu Marga Simarmata. Oleh karena itu, Voorziter secara aktif berdiskusi dengan tokoh-tokoh Simarmata di Jakarta.

Selain berdiskusi, ia juga mengirimkan surat kepada beberapa tokoh penting. Salah satunya adalah St. T. Kusman Simarmata, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pelaksana Punguan Simarmata & Boruna di Kota Medan dan sekitarnya pada periode 1972–1973. Sementara itu, perlu diketahui bahwa Punguan Simarmata sendiri telah berdiri sejak 1961.

Peresmian Punguan Simarmata & Boruna

Kemudian, pada Minggu, 28 Januari 1973, Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia resmi berdiri. Peresmian tersebut berlangsung di Jalan Purwo No. 6, Medan.

Pada kesempatan yang sama, organisasi ini juga membentuk Panitia Pembangunan Tugu Ompu Simataraja. Dalam struktur kepengurusan awal, para tokoh Simarmata sepakat menunjuk Mangga Albinus Simarmata (Voorziter) sebagai Ketua Umum pertama.

Sosok Voorziter di Lingkungan Keluarga

Pada periode 1972–1975, OH Simarmata SH bertugas sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan. Saat itu, keluarga tinggal di Jalan Sei Babalan, Medan. Dalam keseharian, Opung Voorziter dikenal sebagai sosok bertubuh kecil, kurus, berkulit gelap, dan pendiam. Ia menetap di Binjai.

Setiap kali berkunjung ke rumah, ia lebih sering duduk sambil menulis catatan. Ia jarang berbicara kepada cucu-cucunya. Namun, setelah selesai mencatat, ia selalu berdiskusi dengan anaknya sebelum kembali pulang.

Kebiasaan tersebut terus berlanjut ketika OH Simarmata SH menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli pada periode 1975–1981. Baru kemudian keluarga memahami bahwa catatan-catatan itu berkaitan langsung dengan tanggung jawabnya sebagai Ketua Umum Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia (1973–1986) sekaligus Ketua Panitia Pembangunan Tugu Pemersatu Marga Simarmata.

Keteguhan di Tengah Keterbatasan

Meskipun tidak menempuh pendidikan tinggi dan hanya mampu membaca serta menulis, Voorziter tidak pernah berkecil hati. Sebaliknya, ia justru terus bergerak maju. Ia lahir dari keluarga sederhana di Alngit, Kenegerian Lumban Suhi-Suhi.

Akhirnya, impian besarnya terwujud. Saat ini, Punguan Simarmata berdiri kokoh. Selain itu, Tugu Pemersatu Marga Simarmata telah berdiri di Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. drh. Rotua Wendeilyna Simarmata, MSi, CMed, yang akrab disapa Wendy.

Warisan Nilai Kehidupan

Opung Voorziter tidak meninggalkan warisan tanah dalam jumlah besar. Ia hanya mewariskan empat petak sawah, yang berasal dari Opung Badoat Simarmata, kakeknya. Namun demikian, ia meninggalkan warisan yang jauh lebih bernilai.

Ia menanamkan jiwa kepemimpinan, semangat berorganisasi, dan dorongan kuat untuk menempuh pendidikan tinggi kepada seluruh keturunannya. Bahkan, demi menyelesaikan pendidikan anaknya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, ia rela menjual rumahnya di Lumban Bona-Bona Alngit kepada tulangnya bermarga Sihotang di Janji Marapot.

Dampak Nyata bagi Generasi Penerus

Saat ini, Opung Voorziter memiliki 17 orang cucu. Dari jumlah tersebut, tiga orang meraih gelar Doktor (S3), sementara dua orang menyandang gelar Magister (S2). Salah satu cucunya, Mora Sitohang, berprofesi sebagai dokter super spesialis saraf otak.

Selain itu, terdapat Ir. Reiner Parlindungan Simarmata, MSc, lulusan S2 dari Belanda yang kini menetap di negara tersebut. Kemudian, Samuel Simarmata, SH, LLM juga berhasil menyelesaikan pendidikan S2 di Inggris.

Menurut Wendy, pencapaian ini tidak terlepas dari kebiasaan Opung Voorziter yang gemar menulis, jarang berbicara, tetapi selalu menggunakan daya pikir secara optimal.

Harapan ke Depan

Sebagai penutup, Wendy mengungkapkan rasa bangganya sebagai cucu Ketua Umum pertama Punguan Simarmata & Boruna Se-Indonesia sekaligus penggagas pembangunan Tugu Pemersatu Marga Simarmata.

Ia berharap Musyawarah Besar Punguan Simarmata yang akan digelar pada pertengahan tahun ini dapat melahirkan pemimpin yang visioner. Dengan demikian, organisasi tersebut mampu mempersatukan seluruh keturunan Simarmata se-Indonesia serta terus berkarya bagi sesama.

Demikian Wendy mengakhiri pernyataannya. (red)

Tinggalkan Balasan