JAKARTA – Kerusakan Lingkungan Sumatera memperparah dampak banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa anomali cuaca ekstrem memicu curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat.
Kepala BMKG menjelaskan bahwa hujan yang turun dalam satu hari setara dengan curah hujan normal selama satu bulan. Siklon Tropis Senyar yang terpantau aktif di sekitar Selat Malaka memperkuat sistem hujan dan meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Cuaca Ekstrem dan Degradasi Lingkungan
BMKG menegaskan cuaca ekstrem sebagai pemicu utama banjir dan longsor. Namun, para ahli lingkungan menilai degradasi ekosistem turut memperbesar dampak bencana. Kerusakan daerah resapan air membuat aliran hujan langsung mengalir ke permukiman.
Alih fungsi lahan dan pembukaan hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir bandang, terutama di wilayah dataran rendah dan kawasan aliran sungai.
Deforestasi dan Dugaan Illegal Logging
Arus banjir menyeret kayu gelondongan dalam jumlah besar dari wilayah hulu. Temuan tersebut memicu dugaan praktik illegal logging yang mempercepat kerusakan ekosistem hutan.
Pemerintah pusat langsung menginstruksikan aparat penegak hukum untuk menyelidiki asal kayu dan menindak tegas pelaku perusakan lingkungan. Langkah ini diharapkan dapat menekan laju deforestasi di Sumatera.
Mitigasi Bencana dan Pemulihan Lingkungan
BMKG mengimbau pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi hujan ekstrem lanjutan. Selain mitigasi bencana, para pakar menekankan pentingnya pemulihan hutan sebagai solusi jangka panjang.
Upaya rehabilitasi lingkungan dinilai krusial untuk menekan risiko bencana akibat kerusakan lingkungan Sumatera di masa mendatang.















