Slider Beranda

SPMB

SPMB

Teratai Putih Global Schools Membuka Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025-2026

https://wartagrandwisata.com/teratai-putih-global-schools-membuka-pendaftaran-seleksi-penerimaan-murid-baru-tahun-ajaran-2025-2026/

https://wartagrandwisata.com/teratai-putih-global-schools-membuka-pendaftaran-seleksi-penerimaan-murid-baru-tahun-ajaran-2025-2026/

Teratai Putih Global Schools Membuka Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025-2026

KesehatanKomersialLifestylePendidikan

Saat Mata Tak Lagi Bisa Berpaling

31
×

Saat Mata Tak Lagi Bisa Berpaling

Sebarkan artikel ini

Fenomena mata sepet, perih, dan lelah kerap dianggap remeh. Banyak orang menganggapnya sebagai konsekuensi wajar dari rutinitas padat dan paparan layar yang tak terelakkan. Ketika mata terasa berat, berair, atau seperti ada ganjalan, respons paling umum adalah mengucek mata atau memejamkannya sejenak. Padahal, di balik keluhan yang tampak sepele itu, mata sedang mengirimkan sinyal bahwa kondisinya tidak baik-baik saja.

Gejala Mata SePeLe—Sepet, Perih, Lelah—merupakan tanda awal mata kering. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kenyamanan, tetapi juga memengaruhi kualitas penglihatan dan produktivitas. Mata yang tidak lembap bekerja lebih keras untuk fokus, sehingga rasa lelah datang lebih cepat. Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat berdampak pada performa kerja, proses belajar, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Masalahnya, mata kering bukan kasus yang jarang. Data menunjukkan prevalensi mata kering mencapai 41 persen. Angka ini menggambarkan bahwa hampir seterazangah populasi pernah atau sedang mengalami keluhan mata kering dengan tingkat keparahan berbeda. Fakta tersebut menegaskan bahwa mata kering bukan sekadar keluhan individual, melainkan persoalan kesehatan yang luas dan relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.

Perubahan pola hidup menjadi faktor utama. Aktivitas di depan layar televisi, ponsel, dan laptop kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga hiburan semuanya berpindah ke layar digital. Dalam kondisi normal, manusia berkedip sekitar 15–20 kali per menit untuk menjaga permukaan mata tetap lembap. Namun saat menatap layar, frekuensi berkedip bisa menurun drastis tanpa disadari. Akibatnya, lapisan air mata menguap lebih cepat dan mata kehilangan pelindung alaminya.

Paparan lingkungan turut memperburuk kondisi tersebut. Debu, polusi udara, asap kendaraan, hingga udara kering dari pendingin ruangan membuat mata semakin rentan iritasi. Mata yang terus-menerus terpapar kondisi ini akan mudah terasa perih, sepet, dan cepat lelah. Jika dibiarkan, keluhan sederhana dapat berkembang menjadi gangguan penglihatan yang lebih serius.

Dampak mata kering tidak hanya dirasakan orang dewasa. Anak-anak menjadi kelompok yang semakin rentan. Intensitas penggunaan gawai pada usia dini meningkat tajam, baik untuk keperluan sekolah maupun hiburan. Mata anak yang masih dalam tahap perkembangan dipaksa beradaptasi dengan cahaya layar dan jarak pandang dekat dalam waktu lama. Akibatnya, anak mudah kehilangan fokus, cepat lelah saat belajar, dan kesulitan menyerap pelajaran. Prestasi akademik pun bisa terdampak.

Fenomena penggunaan kacamata di usia sekolah dasar kini bukan lagi hal langka. Produk lensa dan alat bantu penglihatan semakin mudah ditemui, menandakan adanya perubahan pola kesehatan mata generasi muda. Sayangnya, kesadaran akan pencegahan sering kali datang terlambat. Banyak orang baru peduli ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Padahal, mata adalah salah satu pancaindra paling vital. Hampir seluruh aktivitas manusia bergantung pada fungsi penglihatan. Ketika mata tidak nyaman, dunia terasa buram dan melelahkan. Karena itu, merawat mata seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, bukan sekadar respons sesaat saat keluhan muncul.

Kesadaran menjadi langkah awal yang penting. Mengenali gejala sejak dini, memberi jeda pada mata dari paparan layar, serta menciptakan kebiasaan visual yang sehat dapat membantu mencegah mata kering. Istirahat mata secara berkala, mengatur pencahayaan layar, dan menjaga kelembapan lingkungan adalah upaya sederhana namun berdampak besar. Kampanye “Bebas Mata SePeLe” hadir untuk mengingatkan bahwa rasa tidak nyaman pada mata bukanlah kondisi normal yang harus ditoleransi terus-menerus.

Sebagai penutup, INSTO Dry Eyes hadir sebagai bagian dari solusi perawatan mata kering sehari-hari. Dengan membantu menjaga kelembapan mata, INSTO Dry Eyes mendukung masyarakat agar tetap beraktivitas dengan nyaman, fokus, dan produktif tanpa terganggu gejala Mata SePeLe—sepet, perih, dan lelah—di tengah tantangan era digi

tal.

(HS)