JAKARTA – Komisi IV DPR RI menggelar rapat kerja dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) pada Kamis, 4 Desember 2025. Rapat ini menyoroti banjir dan longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh yang terjadi pada akhir November 2025, serta menekankan evaluasi kerusakan hutan.
Latar Belakang Rapat
Komisi IV memanggil Kemenhut setelah sorotan publik dan temuan lapangan terkait kayu gelondongan yang hanyut. Material kayu ini menunjukkan masalah serius di hulu sungai, termasuk deforestasi dan alih fungsi lahan, yang memperparah dampak bencana. Selain itu, kondisi hulu sungai yang rusak memicu risiko banjir lebih tinggi.
Poin Utama Pembahasan
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menjelaskan bahwa rapat akan membahas lima aspek utama bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni:
-
Peta DAS – DPR meninjau kondisi daerah aliran sungai terdampak.
-
Data Tutupan Lahan – Tim menganalisis tutupan lahan di setiap DAS.
-
Kerusakan Hutan dan Lahan – Komisi meminta data kerusakan per DAS.
-
Program Reboisasi – Kemenhut membahas rencana rehabilitasi hutan.
-
Alokasi Dana – DPR menanyakan dana untuk rehabilitasi DAS.
Sorotan dan Evaluasi
Alex Indra Lukman menekankan bahwa material kayu hanyut menunjukkan persoalan serius di hulu sungai. Ia menegaskan bahwa bencana tidak hanya muncul akibat curah hujan ekstrem, tetapi juga karena kerusakan ekologis dari deforestasi.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh dan kebijakan kehutanan baru agar bencana serupa tidak terulang di masa depan. Oleh karena itu, kedua pihak sepakat memprioritaskan reboisasi, pemulihan ekosistem DAS, serta penguatan koordinasi lintas instansi.
Upaya Penanganan dan Rekomendasi
Komisi IV DPR RI mendorong Kemenhut untuk mempercepat rehabilitasi DAS terdampak. Selain itu, rencana pemantauan tutupan lahan secara berkala akan diterapkan. DPR dan Kemenhut juga menekankan pentingnya sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat di wilayah rawan banjir dan longsor.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan wilayah Sumatera dapat lebih siap menghadapi curah hujan ekstrem dan risiko banjir longsor Sumatera di masa mendatang. Secara keseluruhan, evaluasi dan tindakan cepat menjadi kunci pencegahan bencana berikutnya.















