Slider Beranda

SPMB

SPMB

Teratai Putih Global Schools Membuka Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025-2026

https://wartagrandwisata.com/teratai-putih-global-schools-membuka-pendaftaran-seleksi-penerimaan-murid-baru-tahun-ajaran-2025-2026/

https://wartagrandwisata.com/teratai-putih-global-schools-membuka-pendaftaran-seleksi-penerimaan-murid-baru-tahun-ajaran-2025-2026/

Teratai Putih Global Schools Membuka Pendaftaran Seleksi Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2025-2026

Berita Nasional

Workshop Gender di Medan Dorong Jurnalis Lebih Peka terhadap Bias Pemberitaan

196
×

Workshop Gender di Medan Dorong Jurnalis Lebih Peka terhadap Bias Pemberitaan

Sebarkan artikel ini

Isu bias gender dalam pemberitaan kembali menjadi sorotan lewat workshop gender bagi jurnalis, news anchor, public speaker dan content creator yang digelar di New York Room hotel JW Marriott, Medan (08/10).Kegiatan yang difasilitasi oleh UNFPA, Kompas, YSSI dan Kemenduk Bangga bertujuan meningkatkan sensitivitas gender dikalangan pekerja media dan pembuat konten digital.

Sebanyak 31 peserta dari berbagai latar belakang di Sumatera Utara hadir dalam pelatihan tersebut, mulai dari jurnalis, pembawa acara berita, hingga aktivis perempuan. Dua narasumbernya adalah Kalis Mardiasih- seorang content creator dan aktivis perempuan serta Sonya Hellen Sinombor, jurnalis senior Kompas TV.Salah satu peserta, Pieter Sembiring, jurnalis dari media lokal, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru terutama dalam memahami konstruksi sosial yang melanggengkan bias gender.

“Saya lulusan ilmu politik dan saya benar benar paham bagaimana media bisa membentuk persepsi tentang perempuan.Workshop ini membuka mata saya bahwa jurnalis juga harus peka gender, dalam diksi yang ia pilih sehingga tidak menimbulkan misinformasi.” Ujar Pieter.

Materi disampaikan oleh konten creator Kalis Mardiasih, yang menjelaskan bagaimana budaya patriarki dapat terinternalisasi dalam pemberitaan.Ia melihat ketidakadilan pada perempuan yang hanya mengurus dapur, kasur dan sumur.Ketidakadilan itu memunculkan feminisme, gerakan perempuan pada hak haknya mendapatkan informasi yang tidak bias, baik mengenai kesehatan reproduksi, kehamilan, hingga penolakan pada budaya pemotongan vagina hingga perawatan payudara. “Itu sangat mendiskreditkan kelompok perempuan, anak dan kelompok marginal lainnya.” Ujarnya. Dengan gaya lepas dan santai. Peserta diajak brainstorming mengenai aspek aspek dasar patriarki yang menjadi dalang dari acara ini. “Konten yang sehat baik tulisan, brosur, sampul majalah haruslah dibuat secara sensitif dan peka gender, contoh kalimat yang tidak bias gender antara lain “seorang ibu makan 2 kali agar anaknya makan 3 kali” ujar salah satu peserta.

Selain diselingi oleh games menarik dari Rita (Aliansi Jurnalis Independen) mengenai worm (word of mouth), games itu penting sekali untuk mengedukasi peserta tentang bahayanya misinformasi dari mulut ke mulut. Dibawakan dengan santai seperti talk show di televisi, materi disampaikan kembali oleh Sonya Hellen Sinombor , jurnalis senior Kompas TV. Ia menekankan pentingnya penggunaan bahsa media yang tidak mendsikreditkan perempuan dan anak di lead news dan body news. Terutama media online yang menguatamakan kecepatan dan clickbait.
“media memiliki peran besar membentuk opini publik. Karena ini jurnalis harus berhati hati agar tidak memperkuat stereotip gender yang merugikan perempuan,” ujar Sonya.

Dilaksanakan selama sepekan, baik daring dan luring, peserta diajak memahami hak hak reproduksi perempuan dan pengasuhan anak dari UNFPA, sebuah badan dibawah naungan PBB yang menaungi perempuan dan anak, kini mereka concern – isu anak Palestina. Kegiatan ini juga dikemas dengan pendekatan interaktif menggunakan teknologi mentimeter dan barcode sharing yang mengevaluasi program tersebut secara tepat guna. “Semua peserta menginginkan kelas yang inlusi dan menambah network.Bila ada peserta yang mengeluarkan jokes berbau sexist maka ruangan akan membunyikan alarm. Wakwaouuww” Ujar Putri Khatulistiwa, panita acara.

Namun dibalik antusiasme peserta, muncul pula kritik dan kekhawatiran dari Sebagian kalangan mengenai kebasahan media kecil yang belum terverifikasi oleh Dewan pers. Salah satu panitia, Rita menyoroti pentingnya professionalisme dan legalitas dalam praktik jurnalistik. “Kami tidak melarang media kecil berkembang, tapi verifikasi Dewan pers penting untuk melindungi jurnalis dari potensi masalah hukum.” Ujar Rita.

Halomoan, seorang peserta dari kelompok jurnalis, mengakui keresahannya selama ia mengikuti acara. Situsnya disuspend sehingga mengurangi performanya dalam presentasi RTL dihari ketiga.”Saya menilai pengalaman ini menjadi Pelajaran berharga. Say berencana menulis jurnal ilmiah dari Kemenpora bertajuk analisis bias gender bagi perempuan dan anak di koran Kompas.” Sebagai tindak lanjut hasil pelatihan tersebut. Ujarnya. Ia juga lulusan magister dan mewakili civitas akademik.

Workshop itu semakin memuncak saat presentasi RTL (Rencana Tindak lanjut), semua peserta semakin terpacu dengan keberanian mempresentasikan RTL dengan door prize tiket ekslusif media visit ke Kompas di Jakarta. Hasilnya akan diumumkan tak lama lagi yakni 9 november melalui whatsapp group. (HS)