KOTA BEKASI – Wajah Kota Bekasi kembali menjadi sorotan setelah kondisi panel gapura di kawasan Bekasi Timur terlihat rusak parah dan menjadi viral di media sosial. Kerusakan pada struktur yang berfungsi sebagai salah satu ikon pintu masuk kota ini telah memicu reaksi keras dari kalangan legislator di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi.
Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary, mendesak Pemkot Bekasi untuk segera mengambil tindakan cepat. Ia menyatakan keprihatinannya atas kondisi tersebut, terutama karena kerusakan mengancam keselamatan warga dan mencoreng estetika kota.
“Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Panel-panel yang hilang dan kerangka yang bolong-bolong itu sangat membahayakan pengguna jalan. Jangan sampai ada korban jiwa karena kelalaian ini,” tegas Latu Har Hary.
Menurut Latu, kerusakan ikon yang terletak di Jalan Joyo Martono, Bekasi Timur, ini sudah terjadi sejak tahun lalu namun belum ada perbaikan signifikan dari dinas terkait. Ia menilai ironis jika di tengah upaya kota berbenah, ikon penting justru dibiarkan dalam keadaan rusak.
Respon Cepat Pemkot dan Riwayat Penanganan
Meskipun kritik keras dilayangkan, catatan menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Bekasi, melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA), memiliki mekanisme Unit Reaksi Cepat (URC) yang kerap merespon aduan kerusakan infrastruktur secara sigap, termasuk pada gapura tersebut.
Dalam kasus kerusakan serupa di masa lalu, terutama yang dipicu oleh angin kencang dan viral di media sosial, Plt. Wali Kota Bekasi saat itu, Tri Adhianto, pernah menginstruksikan dinas terkait untuk langsung memperbaiki panel gapura yang nyaris copot di lokasi tersebut agar tidak membahayakan pengendara.
Solikhin, Sekretaris Dinas DBMSDA Kota Bekasi, sebelumnya juga pernah menegaskan bahwa tim URC langsung bergerak cepat begitu mendapatkan laporan dari masyarakat melalui media sosial.
“Kami selalu berkomitmen merespon cepat setiap aduan. Kami menghimbau masyarakat untuk terus melaporkan keluhan melalui saluran resmi agar perbaikan bisa segera dilakukan,” ujar Solikhin dalam pernyataan sebelumnya.
Namun, pengulangan kerusakan ini—yang ditandai dengan kerangka gapura terlihat bolong-bolong karena panelnya hilang—menjadi indikasi perlunya evaluasi menyeluruh terhadap konstruksi dan material gapura tersebut.
Dorongan untuk Solusi Permanen
Latu Har Hary pun tidak hanya mendorong perbaikan tambal sulam. Ia meminta Pemkot Bekasi untuk mempertimbangkan langkah jangka panjang, termasuk penggantian gapura dengan desain yang lebih modern dan representatif.
“Anggaran pemeliharaan atau alokasi lain bisa dimanfaatkan. Gapura ini adalah wajah kota, dan harus tampil optimal. Kami mendesak Wali Kota Bekasi untuk segera menyelesaikan persoalan ini,” pungkasnya.
Kondisi gapura yang kerangkanya terlihat bolong-bolong akibat panelnya hilang telah menjadi keluhan warga sekitar yang merasa khawatir setiap kali melintas di bawahnya. Desakan dari legislatif ini diharapkan menjadi cambuk bagi Pemkot Bekasi untuk segera bertindak, dengan fokus tidak hanya pada perbaikan darurat, tetapi juga solusi permanen.















